Kabasaran

Ternyata jurus utama Tari Kabasaran adalah bergerak cepat bagaikan bayang-bayang sambil mengayun-ayunkan pedang yang diambil dari cerita dunia persilatan Minahasa tentang "Ksatria Sembilan Bayang-Bayang" dari Tentara Malesung dalam Perang Malesung vs Bolaang-Mongondow. Perang ini dimulai dari Perang Pertama 1606 dan berakhir dalam Perang Ketiga 1693 dimana Pasukan Malesung berhasil menghalau dan membinasakan gerombolan Bolaang-Mongondow di tanah Malesung/Minahasa pada bulan Juni 1693 di Tompaso dengan membakar mayat pasukan Bolmong untuk membuat mereka ngeri (di Toraget, asal kata tou-rages/tou-racet). 

RETOR "SI TARUMETOR" 
“Ksatria Sembilan Bayang-Bayang”
“Si Rimangkai Im Banua”


Dalam mitologi, Bangsa Minahasa adalah keturunan Toar-Lumimuut. Sebelum bernama Minahasa, tanah yang didiami bangsa ini disebut Tanah Malesung. Bangsa Minahasa hidup berdampingan dengan bangsa Bolaang dan Mongondow yang mendiami tanah di sebelah selatan Tanah Malesung dan seiring dengan perjalanan waktu, disamping hidup berdampingan, kedua bangsa ini pun kemudian hidup kawin-mawin, namun tidak dapat hidup bersama dalam satu pemerintahan.

Karena, negeri Bolaang dan Mongondow memiliki pemerintahan kerajaan sendiri, sedangkan Bangsa Malesung tidak pernah mengenal adanya pemerintahan kerajaan dan tidak pernah mau diperintah oleh raja manapun. Itulah kemudian bangsa Minahasa memilih hidup berkelompok-kelompok berdasarkan turunan keluarga-keluarga atau disebut Taranak diwilayah-wilayah yang telah dibagi-bagi di Watu Pinawetengan, menurut bahasa dan ritual agama (Posan atau Fosoh) masing-masing. Wilayah-wilayah di Tanah Malesung ini kemudian dinamakan Walak. Dan pemimpin dalam wilayah-wilayah itu disebut Kepala Walak.

===
Sebab-Sebab Munculnya Perseteruan Malesung dengan Mongondow :

Kehidupan berdampingan dengan bangsa Bolaang dan Mongondow ini juga sering terganggu oleh beberapa hal, yaitu seperti masalah pendudukan-pendudukan wilayah yang dilakukan oleh bangsa Mongondow di Tanah Malesung.

Kemudian, terjadilah suatu peristiwa besar yang memicu terjadinya perang besar di negeri Bolaang Mongondouw itu, yaitu dimulai oleh suatu peristiwa “Perang Saudara” untuk perebutan kekuasaan kerajaan antara Datu Poli’I (Ramopoli'i atau Damopili’i) dari keturunan Intu-intu dari bangsa Rumojoporong (cikal bakal bangsa Bolaang) yang menjadi raja di Bolaang Mongonndow itu, dengan Wantania seorang keturunan bangsa Mongondouw yang telah pula diangkat menjadi raja di Rumoga (Dumoga).

Menurut catatan Dr. J.F.G Riedel dalam buku yang ditulisnya tahun 1862: “Hikajatnya Tuwah Tanah Minahasa”, bahwa “Perang Saudara” Raja Datu Poli’i (Damopoli’i) dengan Wantania (antara Bolaaang dengan Mongondouw) ini telah pula menjadi pemicu perang besar yang berlangsung lama antara Malesung (Minahasa) dengan Mongondouw, serta inilah awal daripada munculnya semangat persatuan (se-kawanua) dan rasa persaudaraan sesama taranak keturunan Toar-Lumimuut, hingga menuju terbentuknya nama Bangsa Minahasa menggantikan nama Malesung.

Di sekitar tahun 1450, adalah Raja Datu Poli’I (Damopili’i), pemimpin bangsa Bolaang itu, mengambil seorang isteri nan rupawan dan cantik jelita bernama Teteon (ada yang menyebutnya Uwe Randen), putri dari Tiwow-Karangan, yaitu dari keturunan Rusu-Langie (penguasa) pertama dari Pakasaan Tounkimbut (wilayah Tareran sekarang) dari suku Tountemboan. Dari perkawinan ini, raja Datu Damopoli’i kemudian menghibahkan (mas kawin) Tanah Lewet kepada Pakasaan Tounkimbut. Tanah Lewet ini juga disebut Tanah Besar, karena wilayahnya melingkupi Amurang, Motoling hingga Modoinding yang sekarang menjadi wilayah Minahasa Selatan, serta sebagian wilayah Ratahan di Minahasa Tenggara sekarang.

Akibat dari tindakan Damopoli’i yang memberikan mas kawin Tanah Besar itu kepada Pakasaan Tounkimbut, maka terjadilah perselisihan diantara kaum dan bangsa Bolaang dan Mongondouw yang telah menjadi satu bangsa itu. Kemudian, oleh kaum Mongondouw mengangkat Wantania di Rumoga (Dumoga) sebagai raja kaum Mongondow menggantikan Damopoli'i.

Maka, ketika Damapoli’i kembali ke Dumoga setelah selesai melakukan hajatan pernikahan dengan Teteon, didapatinya Wantania telah diangkat menjadi raja oleh kaum Mongondow, maka terjadilah perselisihan besar antara keduanya hingga melebar menjadi perang saudara antara kaum Bolaang dan Mongondow. Damopili’i kemudian meminta bantuan Pakasaan Tounkimbut dengan orang-orang gagah berani pergi berperang melawan dan mengalahkan kaum Mongondow pimpinan Wantania itu.

===
Awal Perang Malesung – Mongondow Pertama :

Pada sekitar akhir tahun 1500-an hingga awal 1600-an, ketika Ramokian (Damokian atau Mokian) diangkat menjadi raja Bolaang Mongondow, maka iapun ingin merebut kembali Tanah Besar yang telah dihibahkan sebagai mas kawin oleh Raja Damopolii kepada Pakasaan Tounkimbut itu.

Ramokian kemudian masuk ke Tanah Besar melalui sisi sungai Molompar lalu menduduki kembali seluruh wilayah Tanah Besar itu dari Pakasaan Tounkimbut dan Tountemboan. Maka terjadilah peristiwa perang, perampasan serta pendudukan oleh Ramokian di wilayah Tanah Besar itu. Bahkan, Ramokian melakukan invasi ke wilayah Belang-Ratahan yang ketika itu telah dihuni kaum Pasan-Wangko. Kemudian Ramokian mengultimatum kaum Pasan-Wangko dan memungut pajak dan upeti dari penduduk tersebut, dengan alasan bahwa negeri Tanah Besar yang didiami mereka adalah tanah wilayah milik Bolaang dan Mongondow.

Maka terjadilah kemudian, pengungsian besar sebagian kaum Pasan-Bangko dari wilayah Belang-Ratahan dengan berpindah tempat guna menghindar dari tekanan Ramokian, mereka kemudian pindah dan bercampur baur dengan Pakasaan Toulour, diwilayah-wilayah Remboken, Kakas dan Tondano.

Oleh karena itu, Ramokian pun mengirimkan utusan ke Pakasaan Toulour, mencari kaum Pasan-Wangko yang berpindah ke wilayah itu. Ramokian menyampaikan pesan untuk memungut bagi hasil dari kaum ini.
Namun apa yang terjadi, justru hal ini juga menimbulkan suatu peristiwa besar yang tak disangka-sangka oleh Ramokian, dimana kemudian tuntutan Ramokian ditolak mentah-mentah oleh para tua-tua atau Teterusan (pemimpin walak) diseluruh Toulour.
Dalam catatan J.F.G. Riedel, bahwa Teterusan Kakas yang ketika itu dipimpin oleh Montang (versi lain menyebutnya Wengkang) dan Ra’aniw. Kemudian oleh Wengkang dan Ra’aniw, pasukan suruhan dan utusan Ramokian itupun diusir dan dihalau hingga terjadi perang di Langowan, dan tinggal hanya sedikit dari utusan itu yang dapat lolos, dan dari mereka yang sempat lolos itu akhirnya menemui Ramokian dan melaporkan perlakuan yang mereka terima dari Teterusan Kakas di Pakasaan Toulour itu.

Melihat kenyataan itu, dimana pasukan utusannya yang dipukul mundur oleh Teterusan Kakas, maka Ramokian menambah pasukan dari Mongondouw lalu masuk hingga ke wilayah rata di Panasen, sedangkan Kakas yang dipimpin oleh Wengkang dan Ra’aniw mendapat bantuan pasukan dari saudara-saudaranya di Tondano yang dipimpin oleh Teterusan Gerungan. Pasukan Toulour ini mengatur strategi perangnya di Gunung Kaweng, kemudian turun menghadapi pasukan Ramokian di Panasen.

Alkisah, bahwa perang melawan Mongondow ini begitu dahsyatnya hingga menewaskan seorang ksatria Toulour bernama Mentang (versi lain menyebutnya Ka’at). Ksatria Mentang adalah ayah tiri dari Teterusan Walak Remboken bernama Retor.
Dan setelah peristiwa itu, pasukan Ramokian lalu mundur ke pantai Mangket (sekitar Kapataran).

===

Munculnya Pahlawan Retor "Si Tarumetor", bersama "Ksatria Sembilan Bayang-Bayang" dalam peran dan gelar "Rimangkai Im Banua" :

Mendengar ayah tirinya tewas dalam peperangan melawan Mongondow pimpinan Ramokian di Panasen, maka sakit hatilah Retor. Ketika mendengar berita itu, Retor sedang duduk dan bertapa di “Batu Sesepuhan (Sasapuan)” yang terletak di kampung Leleko, Remboken sekarang. Kemudian, maka naiklah Retor dari Batu Sasapuan itu ke bukit diatas tempat itu, dan berdiri menghadap ke arah wilayah Panasen, lalu berteriaklah Retor sekeras-kerasnya untuk melampiaskan amarahnya itu.

Ditempat itu, Retor berteriak keras-keras dan mengumandangkan pekikkan yang kemudian menjadi sangat terkenal dan menjadi “semboyan perang” bangsa Malesung mulai saat itu dan oleh bangsa Minahasa hingga saat ini.
Adapun, pekikan yang dikumandangkan Retor dari tempat itu berbunyi “I JAJAT U SANTI’, yang artinya “ANGKATLAH PEDANGMU”, sebagai seruan untuk menyatakan perang.

Konon, “teriakan dan pekikkan” Retor itu menggema hingga ke seluruh penduduk Remboken bahkan keseluruh perkampungan dipinggiran danau Tondano (Toulour) itu. Maka, kemudian tempat dimana Retor berdiri mengumandangkan “pekikkan” I JAJAT U SANTI itu kemudian dinamakan “Patalinga’an” hingga sekarang, yang artinya “Tempat dimana TERDENGARNYA pekikkan atau seruan perang”.

Mendengar seruan Retor dari Patalingaan, datanglah beberapa teterusan (ksatria) Remboken menemui Retor di Batu Sasapuan. Mereka adalah Kembi (Kambil), Pakele, Sumayou (Sumoyop), Kawengian, Koagouw, Sumarauw, Kowaas dan Sendouw. Mereka itu yang adalah para ksatria, bersama-sama Retor kemudian oleh para pasukan perang Malesung disebut dengan “Ksatria Sembilan Bayang-Bayang” karena jumlah mereka adalah “sembilan orang” yang mampu bergerak cepat dan bagaikan bayang-bayang yang tak dapat ditebas parang dan tak dapat ditembus tikaman tombak.

Ketika sampai ditempat itu, mereka mendapati Retor sedang “kesurupan (kerasukan)” dengan menari-nari dengan pedangnya, mirip seperti sedang berperang, sehingga tarian itu kemudian menjadi terkenal hingga sekarang dengan sebutan “TARIAN KABASARAN”.

(... Dalam perkembangan seni tari perang KABASARAN dikemudian hari hingga hari-hari ini, pemimpin tarian perang KABASARAN ini selalu disebut "MAKAPETOR", yang dalam pengertian aslinya adalah: "Yang Berperan Sebagai Retor, Si Pemimpin Perang Dengan Pedang Di Tangan" ...)

Sejak saat itu, ketika hendak memulai perang dan atau hendak menyerang musuh, Retor bagaikan kesurupan dan menari-nari perang, maka kemudian munculah panggilan nama baru buat Retor, yaitu “Si TARUMETOR”, yang artinya “Si Retor Yang Kesurupan dan Bernari-Nari Perang”

Maka, setelah para “Ksatria Sembilan Bayang-Bayang” itu berkumpul dan membuat strategi perang di Batu Sasapuan, maka majulah mereka dengan pimpinan Retor “Si Tarumetor” menuju Mangket (Kapataran) sembari memekikkan seruan perang “I Jajat U Santi” … !!!

Dalam bukunya “Hikajatnya Tuwah Tanah Minahasa” karya tahun 1862, J.G.F Riedel menggambarkan bahwa serangan Retor “Si Tarumetor” bersama teman-temannya yang tergabung dalam “Ksatria Sembilan Bayang-Bayang” itu telah menjadikan amuk dan huru-hara besar, menenggelamkan kapal-kapal dan perahu-perahu pasukan Mongondow, serta dengan pedangnya, Retor “Si Tarumetor” membunuh Raja Ramokian (Mokijan) serta memenggal kepalanya lalu kepala Ramokian itu dibawa dan disimpan di sebuah rumah di Remboken. Hingga pada hari dimana Riedel menulis buku itu, tengkorak Ramokian masih tersimpan di Rumah Loji di Remboken dan bahkan oleh sebagian orang tengkorak itu dijadikan sarana ritual untuk mengenang kemenangan Bangsa Minahasa melawan Mongondow, serta mengenang kepahlawanan Retor “Si Tarumetor”.

Dalam kisah dan peristiwa perang Malesung (Minahasa) melawan Mongondow pertama ini, telah menghasilkan beberapa hal penting, yaitu munculnya semboyan “Seruan Perang” bangsa Malesung (Minahasa), yaitu semboyan “I JAJAT U SANTI”, juga “Tarian Perang” Tarumetor yang kemudian dikenal dengan nama “KABASARAN” menjadi peninggalan budaya dan seni perang turun-temurun hingga sekarang.

Dan pula, satu hal yang patut menjadi catatan penting sejarah Minahasa, dimana bahwa sejak kemenangan perang yang dipimpin Retor “Si Tarumetor” itu, maka wilayah “TANAH BESAR” yang telah dipersengketakan oleh Mongondow itu, kemudian berhasil direbut kembali dari tangan Ramokian dan bangsa Bolaang Mongondow secara penuh dan kemudian menjadi milik dan wilayah Tanah Malesung (Minahasa), dengan Sungai Poigar sebagai batasnya yang dimulai pada waktu itu.

Wilayah Tanah Besar itu bukan saja kemudian hanya diduduki oleh Pakasaan Tounkimbut dan Tontemboan, tetapi juga oleh Pasan-Wangko dan Toulour, yaitu dengan membuat perkampungan-perkampungan di Modoinding dan Tompaso Baru hingga sekarang.

Dan atas peran dari Retor “Si Tarumetor” itulah, maka oleh para pemimpin Malesung ketika itu kemudian memberikan gelar bagi Retor “Si Tarumetor” dengan gelar yang sangat monumental hingga sekarang, yaitu gelar “RIMANGKAI IM BANUA” yang artinya, “YANG (TELAH) MENYATUKAN TANAH DAN WILAYAH MALESUNG (MINAHASA)”, karena TANAH BESAR diselatan itu berhasil direbut kembali dari kekuasaan Bolaang Mongondow.

Sejarah kemudian mencatat bahwa perseteruan-perseteruan antara Minahasa dan Mongondow ini tidak terlepas dari persoalan Tanah Besar itu, serta pula bagaimana keterlibatan para PEREMPUAN Minahasa yang cantik-cantik yang begitu mempesona para raja Mongondow itu, telah menjadi juga salah-satu akar perseteruan yang berbuntut perang besar.
Bahkan, ketika Mongondouw kemudian dipimpin raja Loloda Mokoagow (Datu Binangkang / Winangkang), persoalan putri jelita Minahasa dan Tanah Besar kemudian menjadi sebab-musabab terjadinya perang.

Sejarah mencatat, seperti yang ditulis J.G.F. Riedel dalam bukunya “Hikajatnya Tuwah Tanah Minahasa” itu, bahwa kemudian, raja Loloda Mokoagouw terlibat dalam skandal “Pingkan-Matindas” yang melegenda serta keinginannya untuk merebut kembali Tanah Besar itu, telah menciptakan kondisi perang berkelanjutan antara bangsa Malesung dengan Mongondouw.

Dalam perkembangan berikutnya, perselisihan dan perseteruan kedua bangsa ini telah menimbulkan peperangan-peperangan besar berikutnya yang ikut melibatkan bangsa-bangsa Eropa yang masuk dan ingin memberikan pengaruh untuk suatu kepentingan seperti yang dilakukan oleh bangsa Portugis, Spanyol hingga Belanda.

Dari rangkaian peristiwa-peristiwa besar tersebut, justru telah pula melahirkan pahlawan-pahlawan bangsa Minahasa berikutnya yang begitu banyaknya, hingga kemudian pada suatu ketika muncul para penggagas persatuan bangsa Malesung dalam menghadapi gangguan Mongondow dan Spanyol, seperti: SUPIT, PAAT dan LONTOH yang mencetuskan semangat MAHASA atau MAESA, dimana istilah itu kemudian menjadi lebih dikenal dengan sebutan MINAHASA yang secara “de jure” diperoleh melalui pengakuan RESMI oleh bangsa Eropa, yaitu Belanda melalui PERJANJIAN yang disebut “VERBOND 10 JANUARI 1679”.

Pada perkembangannya selanjutnya, pada tanggal 21 September 1694, telah dibuat suatu kesepakatan antara kepala-kepala Walak dan Pakasaan Minahasa dengan Raja Bolaang Mongondow, Jacobus Manoppo, dimana Tanjung Poigar ditetapkan sebagai batas wilayah Minahasa dan Bolaang Mongondow.
Kemudian pada tanggal 12 Maret 1907, Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 30, dengan menetapkan batas wilayah Minahasa dan Bolaang Mongondow adalah Sungai Poigar, Gunung Muntoi dan Danau Modoinding (Danau Moat) masuk menjadi milik Minahasa.

====

Sumber-sumber:
- “Hikajatnya Tuwah Tanah Minahasa”, JFG Riedel (1862)
- ---- Berbagai sumber buku dan bacaan ----
- ---- Berbagai sumber cerita & tuturan (folklore) rakyat Minahasa ---